Ini Pesan Ketua MHM pada Paviliun Iman COP28
Ketua MHM yang juga Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb
Ketua Umum Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang juga Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb memberikan sambutan melalui rekaman video pada even Paviliun Iman yang berlangsung di arena 28th Conference of the Parties (COP28). Ajang ini berlangsung di Dubai, Uni Emirat Arab, 1 – 12 Desember 2023.
Dalam sambutan yang ditayangkan pada Jumat (1/12/2023) di hadapan para peserta dialog, Grand Syekh menggarisbawahi pentingnya Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim dan Paviliun Iman. Menurutnya, keduanya menjadi langkah penting dan luar biasa untuk memperdengarkan suara pemuka agama dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya tantangan perubahan iklim.
Berikut terjemah dari sambutan yang disampaikan Grand Syekh Al-Azhar:
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah saw. dan rasul-rasul lainnya.
Sahabat saya yang saya hormati, Syekh Nahyan bin Mubarak Al Nahyan, Menteri Toleransi dan Koeksistensi, Saudara-saudara sekalian yang berbahagia.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Pertama-tama, izinkan saya untuk menyampaikan salam hormat kepada rekan saya yang mulia Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik. Saya berdoa semoga Sri Paus segera mendapatkan kesembuhan dan kembali sehat walafiat seperti sedia kala.
Saya juga ingin menyampaikan salam hangat dan hormat kepada saudara saya Yang Mulia Syekh Mohammed bin Zayed Al Nahyan atas upayanya yang tulus dalam mempromosikan persaudaraan manusia, khususnya terkait komitmen luar biasa yang dipegang oleh Persatuan Emirat Arab di bawah kepemimpinannya dalam menghadapi salah satu tantangan global terbesar yang dialami oleh umat manusia hari ini, yaitu perubahan iklim dengan dampak negatifnya yang semakin menumpuk.
Saya memandang bahwa langkah dan inisiatif yang diambil oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) mengundang pemuka dan tokoh berbagai agama ini untuk menandatangani “Panggilan Nurani” dalam Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim, juga untuk mendirikan Paviliun Iman, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah COP, pada COP28 bekerja sama dengan PBB dan Pemerintah PEA, sungguh penting dan luar biasa.
Hal itu untuk memperdengarkan suara pemuka agama dalam menghadapi berbagai tantangan, khususnya tantangan perubahan iklim. Ini merupakan kesempatan berharga untuk meningkatkan upaya melindungi lingkungan bersama kita dan menyelamatkannya dari kehancuran yang hampir pasti setelah tanda-tandanya semakin jelas dari tahun ke tahun.
Hal itu tampak pada beberapa bencana alam seperti meningkatnya suhu panas bumi, banjir, kebakaran hutan yang hebat, kekeringan, dan punahnya sejumlah spesies hewan, juga menyebarnya wabah dan penyakit. Benarlah Sekretaris Jenderal PBB António Guterres ketika mengatakan, “Era pemanasan global telah berakhir, dan era ‘mendidih global’ telah dimulai.”
Saudara-saudara yang saya hormati.
Islam memiliki sikap yang jelas terkait lingkungan dan anasir-anasirnya. Mulai dari Bumi, lalu makhluk hidup yang tinggal di dalamnya, sampai pada ikan yang ada di dalam lautan dan burung yang terbang di udara.
Sikap ini secara singkat terdapat pada perintah Ilahi untuk seluruh umat manusia, yang beriman maupun yang tidak beriman, untuk melakukan perbaikan di bumi, juga pada larangan Tuhan untuk tidak melakukan kerusakan di bumi atau di unsur-unsurnya.
Al-Qur’an turun penuh dengan ayat yang menyuruh kita menghormati lingkungan dan elemen-elemannya berdasarkan pada dua hal.
Pertama, bahwa lingkungan dan elemen-elemennya merupakan bukti terkuat yang menunjukkan akal untuk mengenal Tuhan dan mengimani-Nya. Dan, beriman kepada-Nya merupakan nikmat terbesar yang diberikan kepada manusia.
Kedua, bahwa makhluk-makhluk lain, dengan segala bentuk dan macamnya, adalah sama dengan manusia dalam posisinya sebagai hamba Tuhan. Dari situ, manusia dalam pandangan Islam, bertanggung jawab atas lingkungan, seperti halnya bertanggung jawab atas dirinya dan saudara-saudaranya sesama manusia.
Dalam pandangan Islam, ada ketentuan hukum khusus terkait hal ini yang tidak mungkin disampaikan pada kesempatan yang sempit ini. Simpulan yang dapat disampaikan dalam hal ini adalah bahwa bumi dan makhluk yang ada di dalamnya adalah amanat bagi manusia.
Manusia akan ditanya di hadapan Allah pada hari Kiamat tentang perbaikannya dan tentang sikapnya dari kerusakan dan perusakan bumi. Allah telah mengingatkan manusia, jika ia melakukan kerusakan di bumi, Allah akan menurunkan berbagai bencana dan wabah sesuai tingkat perusakan yang dilakukannya.
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS ar-Rum [30]: 41).
Saya tidak mungkin, Saudara-saudara yang terhormat, meninggalkan tempat ini sebelum saya menyampaikan seruan sebagai seorang muslim biasa yang merasakan penderitaan yang dialami oleh bangsa-bangsa yang lemah dan miskin.
Sebuah jeritan manusia yang terpana melihat aksi pembunuhan keji yang dilakukan oleh manusia-manusia berhati keras terhadap orang-orang beriman yang tidak bersalah: laki-laki, perempuan, anak-anak, bayi, bahkan janin. (Jeritan manusia yang terpana) melihat berbagai bentuk kekerasan, sabotase, dan penghancuran yang dialami oleh bumi Palestina.
Saya sampaikan kepada dunia: Sudah tiba saatnya untuk menghentikan perang yang keji dan kejam ini. Saya tegaskan bahwa jika perang itu terus berlanjut, semoga tidak terjadi, tidak ada lagi lingkungan yang (harus) kita pelihara, atau iklim yang kita usahakan selalu bersih untuk anak-anak kita generasi mendatang.