Hari Perempuan dan Anak Perempuan Sedunia di Bidang Sains, MHM: Sejarah Islam Kaya Contoh Pengaruh Perempuan di bidang Sains
Hari Perempuan dan Anak Perempuan Sedunia di Bidang Sains
Majelis Hukama Muslimin (MHM), di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, menekankan bahwa sejarah Islam dan Arab diperkaya dengan contoh-contoh yang berpengaruh dan positif dalam menginspirasi perempuan dan anak perempuan di bidang sains.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Islam menghormati perempuan sebagai ibu, saudara perempuan, anak perempuan, dan istri. Islam juga meninggikan status mereka dalam segala aspek dan mendorong kebaikan, perilaku baik, dan kepedulian terhadap mereka.
MHM merujuk pada hadis Nabi Muhammad SAW, “Perlakukanlah wanita dengan baik” (HR Muslim). Islam mengutamakan pendidikan sebagai hak fundamental yang dijamin oleh hukum Islam bagi perempuan. Islam juga memberikan mereka kesempatan yang sama untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan di berbagai bidang tanpa diskriminasi.
Dalam pernyataan berkenaan Hari Perempuan dan Anak Perempuan Sedunia di Bidang Sains, yang diperingati setiap 11 Februari, Minggu (11/2/2024), MHM menegaskan bahwa hari ini adalah kesempatan penting untuk menyoroti kontribusi perempuan di bidang sains dan teknologi. MHM menyerukan kepada lembaga dan organisasi terkait untuk mengintensifkan upaya untuk mendorong partisipasi perempuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi dengan memastikan kesempatan yang sama untuk pendidikan dan pelatihan ilmiah.
MHM juga mendesak untuk mengatasi tantangan dan kesulitan yang menghambat partisipasi penuh mereka di bidang-bidang ini sambil menyediakan lingkungan kerja yang aman dan mendukung.
Lebih lanjut, MHM menekankan bahwa perempuan merupakan separuh dari masyarakat dunia. Mendukung serta memberdayakan mereka merupakan investasi masa depan yang bermanfaat bagi dunia secara keseluruhan.
Dokumen Persaudaraan Manusia, yang ditandatangani Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, di Abu Dhabi pada 2019, juga menegaskan hak-hak perempuan terhadap pendidikan dan pekerjaan. Dokumen ini juga menekankan kerja sama untuk membebaskan mereka dari tekanan sejarah dan sosial yang bertentangan dengan prinsip-prinsip keimanan dan martabat mereka.