Hari Ketiga, Paviliun Iman COP28 Bahas Keadilan Lingkungan dan Peningkatan Kapasitas Pemuda Respons Krisis Iklim
Sessi diskusi pada hari ketiga Paviliun Iman COP28 di Dubai
Hari ketiga Paviliun Iman di 28th Conferensi of the Parties (COP28), Minggu (3/12/2023), digelar enam sesi diskusi yang diikuti banyak pengunjung. Rangkaian sesi dialog ini berfokus pada keadilan iklim, kesetaraan gender dalam menghadapi tantangan iklim, peran agama dalam mengatasi perubahan iklim, serta adaptasi terhadap krisis iklim, terutama dalam menghadapi krisis seperti ketahanan pangan dan air.
Sesi pertama bertajuk “Keadilan Iklim Feminis Antar Agama untuk Hak Asasi Manusia terhadap Masyarakat dan Lingkungan yang Sehat,”. Para peserta menekankan hubungan signifikan antara perubahan iklim, kesehatan manusia, dan planet bumi. Mereka juga menyoroti sejumlah tantangan, misalnya: kurangnya akses terhadap pola makan seimbang dan kelaparan, terutama di kalangan wanita dan anak-anak perempuan. Diskusi sessi ini juga menekankan pentingnya melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan terkait perubahan iklim.
Sesi kedua mengangkat tema “Kepemimpinan Tokoh Agama dalam Mengatasi Perubahan Iklim”. Sessi ini menegaskan betapa pentingnya Islam menempatkan perlindungan iklim. Peserta menekankan bahwa ajaran agama selalu menyerukan pelestarian lingkungan dan pemanfaatan sumber daya alam secara bertanggung jawab sebagai bagian integral dari tanggung jawab manusia terhadap ciptaan.
Sesi ketiga membahas “Melokalisasi Aksi Keagamaan untuk Keamanan Manusia dalam Menghadapi Perubahan Iklim: Sebuah Perspektif Afrika.” Para peserta menyerukan peningkatan pendanaan iklim, peningkatan keadilan iklim, keadilan bagi masyarakat adat, serta dukungan untuk aksi iklim berbasis agama. Peserta mendesak lembaga keagamaan untuk menerapkan prinsip akuntabilitas, pengawasan, dan pemantauan untuk menghindari penyalahgunaan dana yang dialokasikan untuk mitigasi perubahan iklim.
Pada sesi keempat, permbahasan berfokus pada cara untuk meningkatkan adaptasi dan mengatasi kelangkaan air. Sessi ini juga mengungkap bahwa konflik di banyak belahan dunia terkait dengan kelangkaan air akibat perubahan iklim, sehingga perlu ada respons serius terhadap dampak perubahan iklim, terutama di tengah meningkatnya permintaan akan air oleh manusia, industri, dan pertanian.
Sesi kelima, tema yang dibahas adalah “Mengedepankan Peran Agama, Kepemimpinan Pemuda, dan Advokasi Iklim Berbasis Keagamaan”. Para peserta menggarisbawahi bahwa pemuda adalah pemimpin masa depan dan harus dibekali dengan beragam pengetahuan dan kemampuan yang diperkuat untuk terlibat secara efektif dan mengatasi tantangan global kontemporer.
Sesi terakhir membahas “Hari Rakyat Afrika: Harapan dan Komunitas Tangguh Melawan Perubahan Iklim.” Diskusi pada tema ini menekankan pentingnya mendukung agenda iklim bagi komunitas Afrika yang paling terkena dampak perubahan iklim. Para peserta menyerukan perumusan agenda iklim Afrika yang diakui secara internasional yang dapat memainkan peran penting dalam menyediakan pendanaan yang diperlukan untuk mendukung proyek-proyek yang berkaitan dengan penanganan kerugian dan kerusakan.
Pada hari keempat, Paviliun Iman COP28 juga akan menggelar beberapa sesi. Dialog ini akan berfokus pada interkoneksi pendanaan, etika, dan hak asasi manusia, migrasi dan pengungsian paksa, keyakinan dan masyarakat adat, pendanaan sosial Islam untuk aksi iklim, dan konsistensi investasi keagamaan untuk mengatasi tantangan iklim dan kemiskinan akibat perubahan iklim.