Hari Kelima, 17 Pembicara Dialog Paviliun Iman Bahas Dukungan untuk Anak Terlantar Akibat Krisis Iklim hingga Transisi Energi Berkeadilan
Hari kelima dialog di Paviliun Iman COP28
Hari kelima Paviliun Iman pada 28th Conference of the Parties (COP28), digelar lima sesi dialog. Total ada 17 pembicara yang berpartisipasi dalam dialog yang berlangsung pada Selasa (5/12/2023).
Diskusi ini berfokus pada bahasan tentang inspirasi dan pembelajaran dari masyarakat adat mengenai krisis iklim. Para panelis juga membahas cara mengatasi hambatan transisi yang adil di sektor energi, investasi dalam mitigasi perubahan iklim, serta dukungan bagi anak-anak yang kehilangan tempat tinggal akibat krisis iklim melalui respons berbasis komunitas yang peka terhadap agama.
Sesi pertama bertajuk “Inspirasi dan Pembelajaran dari Komunitas Adat”. Para penelis mengeksplorasi perspektif masyarakat adat terhadap perubahan iklim dan tantangan yang dihadapi mereka yang tinggal di pesisir Panama akibat kenaikan permukaan laut dan berbagai bencana terkait iklim. Para peserta menekankan peran komunitas agama dalam menyatukan upaya mengatasi tantangan perubahan iklim yang mempengaruhi tanah dan gaya hidup adat.
Dialog sesi kedua membahas tema “Mengatasi Hambatan Menuju Transisi yang Adil”. Sessi ini menyoroti pentingnya meningkatkan kolaborasi dan dialog konstruktif antara lembaga keagamaan, lembaga keuangan, pemimpin dunia usaha, dan pemerintah untuk mewujudkan transisi energi yang berkeadilan. Diskusi ini mengkaji cara mengatasi hambatan dalam berinvestasi, mitigasi, dan adaptasi perubahan iklim di negara berkembang, serta potensi peran kepemimpinan perusahaan dalam mendorong transisi yang adil.
Sesi ketiga dialog Paviliun Iman bertajuk “Mendukung Anak-anak Pengungsi Akibat Krisis Iklim”. Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya mendukung anak-anak yang menjadi pengungsi akibat perubahan iklim melalui respons komunitas keagamaan. Konferensi ini mengeksplorasi pengintegrasian konsep dan nilai-nilai agama ke dalam penyediaan dukungan psikologis, mental, dan sosial bagi anak-anak pengungsi di berbagai wilayah yang terkena dampak krisis iklim. Para peserta mencatat dampak buruk dari insiden terkait cuaca dan perubahan iklim secara global, khususnya terhadap anak-anak pengungsi. Mereka juga menyoroti kebutuhan mendesak akan wawasan kolektif dan kemitraan untuk melindungi anak-anak ini dari ancaman perubahan iklim.
Pada sesi keempat, dialog membahas tentang “Transisi yang Adil untuk Afrika: Pertambangan, Teknologi Mineral, dan Mitigasi Perubahan Iklim”. Sessi ini fokus pada bahasan tentang keseimbangan ekstraksi mineral teknologi, yang penting bagi solusi iklim modern, dengan pertimbangan agama dan etika. Laporan ini menekankan peran penting agama dalam membentuk praktik pertambangan yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan etika. Sesi ini mengintegrasikan perspektif agama dengan tantangan praktis, yang bertujuan untuk membentuk jalan baru menuju masa depan teknologi yang adil dan melestarikan lingkungan.
“Studi Kasus dalam Advokasi dan Kesaksian Berbasis Iman: Gereja Episkopal, Masyarakat Gwich’in dan 'Tempat di mana Kehidupan Dimulai,” menjadi bahasan terakhir pada hari kelima. Para pembicara membahas upaya untuk mencegah pengeboran di bagian yang rentan dari National Suaka Margasatwa di Arktik dan dampak signifikan perubahan iklim. Mereka juga menyoroti peran penting advokasi berbasis agama dalam mengatasi tantangan global, termasuk perang, konflik, dan krisis perubahan iklim.
Paviliun Iman pada COP28 berlangsung dari 1 – 12 Desember 2023. Paviliun Iman menjadi tuan rumah bagi beragam pemimpin agama, cendekiawan, pakar lingkungan hidup, pemuda, dan perwakilan masyarakat adat untuk mengeksplorasi dan meningkatkan kesadaran tentang tantangan perubahan iklim. Paviliun ini menampilkan total 70 sesi dialog dengan lebih dari 300 pembicara dari seluruh dunia.