Hari Braille Sedunia, MHM: Braille Penghubung Tunanetra dengan Ilmu Pengetahuan
Peringatan Hari Braille Sedunia
Majelis Hukama Muslimin (MHM), di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, mendesak lembaga dan individu untuk meningkatkan fokus mereka pada bahasa Braille. Bahasa Braille berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan para tunanetra ( individu yang buta dan tunanetra) dengan berbagai ilmu dan ilmu pengetahuan.
Melalui siaran pers dalam rangka Hari Braille Sedunia yang diperingati pada 4 Januari setiap tahun, MHM menekankan bahwa menyebarluaskan dan mempromosikan bahasa Braille, serta menerjemahkan publikasi ilmiah, buku, dan tulisan di berbagai bidang pengetahuan ke dalam bahasa tersebut, dapat meningkatkan peluang pendidikan dan kognitif bagi mereka yang mengandalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
“Hal ini berkontribusi dalam membangun masyarakat yang inklusif dan suportif,” demikian pernyataan MHM, Kamis (4/1/2024).
MHM sangat mementingkan promosi penggunaan Braille sebagai sarana menyebarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan hidup berdampingan. MHM telah bekerja sama dengan Zayed Higher Organization for People of Determination untuk menerjemahkan Dokumen Persaudaraan Manusia, yang ditandatangani bersama Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, di Abu Dhabi pada 2019, ke dalam Braille Arab, Inggris, dan Italia. Tujuannya adalah untuk membuatnya dapat diakses oleh tunanetra di seluruh dunia.
“Inisiatif ini sejalan dengan upaya berkelanjutan MHM untuk memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mengakses pengetahuan di berbagai bidang. Hal ini juga mencerminkan komitmen dewan untuk memajukan hak-hak penyandang disabilitas dan mendorong partisipasi penuh mereka dalam komunitasnya,” sebut MHM.
Braille adalah representasi taktil atau tekstur (nilai raba dari suatu permuakaan benda seperti kasar, halus, licin dan sebagainya) dari simbol alfabet dan numerik dengan menggunakan enam titik untuk mewakili setiap huruf dan angka. Ini digunakan oleh individu tunanetra untuk membaca buku dan majalah dalam bentuk cetak yang terlihat. Sarana ini memastikan akses mereka terhadap informasi dan pengetahuan manusia.