Gubernur Jatim Sebut Keharmonisan Indonesia Jadi Inspirasi Dunia
Gubernur Jatim Khofifah Indarparawansa bersama Guru Besar UIN Raden Intan Lampung Prof Mukri
Gubernur Jawa Timur yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Hj Khafifah Indar Parawansa mengungkapkan bahwa keharmonisan di tengah kebhinekaan yang ada di Indonesia ini merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri oleh seluruh elemen bangsa Indonesia. Fakta ini diakui dunia sekaligus menjadi inspirasi dan motivasi berbagai negara untuk belajar dari Indonesia dalam mewujudkan kedamaian di tengah keragaman.
Pesan ini disampaikan Khofifah saat berkunjung ke Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung. Menurutnya, Indonesia diciptakan oleh Allah swt dengan keragaman di berbagai aspek, baik agama, suku, budaya, ras, dan lainnya. Dalam satu agama pun masih ada keragaman, misalnya ormas keagamaannya. Di setiap ormas juga diwarnai keanekaragaman pendapat para pengurus dan anggotanya.
Namun, lanjut Khofifah, keragaman ini tidak memunculkan perpecahan, apalagi peperangan. Inilah yang menjadi inspirasi dunia untuk belajar ke Indonesia. Keinginan untuk belajar keragaman Indonesia ini antara lain datang dari Majelis Hukama Al-Muslimin yang berkantor pusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Mereka datang ke Indonesia beberapa waktu lalu, bertemu dengan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin.
“Mereka mengatakan kepada Wapres (Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin), kami ini datang tidak untuk mengajar. Kami datang untuk belajar. Kalau dulu banyak kitab-kitab berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saat ini kita justru sebaliknya ingin menterjemahkan buku-buku bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arab,” ungkapnya di Lampung, Jumat (29/1/2022).
Kekerabatan antar suku dan agama di Indonesia, kata Khofifah, teruji luar biasa tangguh. Sampai-sampai, Presiden Afghanistan Ashraf Ghani kagum dengan banyaknya suku di Indonesia yang dapat hidup dengan damai. Suatu saat, ia menanyakan kepada Presiden Jokowi tentang bagaimana membangun keharmonisan antar suku di Indonesia yang jumlahnya lebih dari 700 suku ini.
“Afghanistan itu hanya ada 7 suku. Tapi ketika konflik, menajam, melebar, dan berkepanjangan,” kata Khofifah menirukan pernyataan Presiden Ashraf Ghani saat bertemu Presiden Jokowi.
“Ini (Keharmonisan di Indonesia) harus kita lihat sebagai anugerah yang Allah turunkan ke bumi Indonesia,” kata Khafifah.
Khofifah juga menyinggung kegelisahan Grand Syaikh Al-Azhar Ahmed At-Tayyeb tentang kondisi Timur Tengah yang terus memanas akibat konflik. Ia selalu berpesan kepada para alumni Al-Azhar di berbagai kesempatan untuk senantiasa menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam yang benar kepada para generasi muda.
“Kami sudah lelah melihat Timur Tengah terus memanas. Pendidikan untuk generasi muda adalah jalan pertama untuk mencegah penyebaran paham radikal dan ekstrem. Kalau kita bisa menanamkan nilai-nilai Islam yang benar dalam diri generasi muda, berarti kita sudah dapat memutus jalan menuju terorisme,” ungkap Khafifah mengutip pernyataan Grand Syaikh Al-Azhar.
Untuk terus merawat kerukunan Indonesia, Khofifah menilai penting untuk terus memperkuat tiga ukhuwah yang dicetuskan Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Shiddiq pada tahun 1984. Tiga ukhuwah tersebut adalah Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Wathaniyah, dan Ukhuwah Basyariyah.
Optimisme dalam Ke-Indonesiaan
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof. Mohammad Mukri menilai aneh jika ada masyarakat Indonesia tidak bisa melihat anugerah nyata yang telah diberikan Allah pada Indonesia. Selain mewujudkan rasa syukur dengan berusaha mempertahankan kedamaian ini, semua elemen masyarakat harus optimis pada modal besar kedamaian untuk lebih membangun Indonesia. Indonesia saat ini sudah memiliki banyak modal yang tidak dimiliki negara lain. “Dari nothing, menjadi something, dan to be everything,” katanya.
Saatnya bangsa Indonesia berbahagia, riang gembira, dan merayakan ini semua. Agama Islam sendiri telah menegaskan pada umatnya untuk hidup dalam suasana riang gembira. Berbagai hal harus disikapi dengan positif sebagai bentuk kesadaran bahwa ada Allah swt yang telah menakdirkan segalanya.
Dua sumber utama hukum Islam yakni Al-Qur’an dan hadits pun sudah menegaskan perintah untuk bergembira ini. Di antaranya adalah termaktub dalam Qur’an Surat Yunus Ayat 58 yang artinya: "Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Ayat tersebut, menurut Profesor Ilmu Ushul Fiqih UIN Raden Intan Lampung ini, mengingatkan manusia bahwa bergembira merupakan wujud mensyukuri nikmat. Sehingga orang yang tidak bersyukur menjadi bagian dari ciri-ciri orang yang tidak bahagia dan bergembira. Termasuk menurutnya, orang yang selalu pesimis dan berfikir negatif dalam menghadapi berbagai perbedaan-perbedaan dalam kehidupan merupakan bentuk tidak bergembira dalam hidup. (Muhammad Faizin/Ali Musthofa Asrori/NU Online)