Grand Syekh Al-Azhar: Tidak Ada Perdamaian di Timur Tengah Tanpa Negara Palestina
Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb
Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb menyerukan keadilan universal dan pengakuan terhadap negara Palestina dalam pidatonya di Pertemuan Dunia untuk Perdamaian yang digelar Komunitas Sant’Egidio di Roma, Italia, Senin (27/10/2028). Pertemuan bertema “Menemukan Keberanian untuk Mewujudkan Perdamaian” itu dihadiri Presiden Italia Sergio Mattarella, Ratu Belgia Mathilde, serta para pemimpin agama dan pemikir dari berbagai negara.
Syekh Al-Tayeb menegaskan bahwa keadilan mutlak merupakan prinsip ilahi yang menjadi dasar bagi hak-hak manusia—termasuk kesetaraan, kebebasan, martabat, keamanan, dan persaudaraan—tanpa membeda-bedakan ras, agama, atau bahasa. Ia menilai, pengabaian terhadap nilai-nilai tersebut oleh peradaban modern telah melahirkan perang sia-sia dan penindasan terhadap bangsa-bangsa miskin yang tak berdaya.
Grand Syekh Al-Azhar juga menyoroti krisis global yang mencakup kemiskinan, pengangguran, ketimpangan antara negara kaya dan miskin, serta kerusakan lingkungan akibat eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam. Ia menyebut krisis sosial dan moral telah mengguncang sendi kehidupan manusia, merusak tatanan keluarga, dan menggantinya dengan “alternatif menyimpang” yang bertentangan dengan ajaran agama dan fitrah manusia.
Menurutnya, yang hilang dari peradaban modern adalah moralitas keadilan, sehingga batas antara benar dan salah menjadi kabur. “Kita kini menyaksikan kezaliman tampil dalam pakaian hukum, kesombongan kekuasaan menindas kaum lemah atas nama tatanan dunia, dan pelanggaran kemanusiaan dibenarkan atas nama kepentingan,” ujarnya.
Berbicara tentang konflik di Timur Tengah, Syekh Al-Azhar menilai perang hanya membawa kehancuran dan penderitaan. “Rumah dihancurkan di atas penghuninya, anak-anak kelaparan, martabat manusia diinjak-injak di depan mata dunia modern. Alangkah buruknya kebebasan yang merampas hak hidup orang lemah di tanahnya, dan alangkah buruknya keadilan yang membenarkan kejahatan seperti itu,” tegasnya.
Syekh Al-Tayeb menyampaikan apresiasi kepada negara-negara yang mengakui Palestina dalam pertemuan terakhir PBB. “Saya menghargai keberanian mereka yang mencerminkan kebangkitan nurani manusia dan kemenangan atas kebenaran Palestina yang dirampas. Semoga pengakuan ini menjadi langkah nyata menuju berdirinya negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya,” ujarnya.
Ia menegaskan, “Tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah tanpa berdirinya negara Palestina.”
Ketua Majelis Hukama Muslimin itu juga memberikan penghormatan kepada para pejuang keadilan di seluruh dunia yang lantang mengecam pembantaian di Gaza. Tragedi berkepanjangan itu, katanya, memperlihatkan kerusakan serius dalam sistem internasional yang kini dikendalikan oleh kekuasaan, perdagangan senjata, dan kepentingan ekonomi semata.
Ia menilai dunia tengah kehilangan arah, terjebak dalam standar ganda dan praktik diskriminatif yang bertentangan dengan prinsip keadilan universal—prinsip yang ditegakkan Islam dan semua agama samawi, serta dijunjung para filsuf besar dari masa ke masa.
“Ketika keadilan lenyap, maka kezaliman berkuasa. Ketika manusia kehilangan haknya, nilai-nilai pun runtuh. Ketika orang zalim diagungkan, maka cahaya kebenaran padam dan dunia jatuh dalam kehampaan moral,” ujarnya.
Syekh Al-Azhar mengingatkan, inisiatif Dokumen Persaudaraan Manusia yang ditandatanganinya bersama mendiang Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 2019 lahir dari semangat mengembalikan nilai keadilan dan kedamaian sejati. Ia juga menyinggung pentingnya etika dalam kecerdasan buatan, agar teknologi tidak menjadi ancaman bagi manusia. “Manusia bertanggung jawab menundukkan teknologi untuk kebaikan dan keadilan, bukan membiarkannya memperdalam krisis moral,” katanya.
Menutup pidatonya, Syekh Al-Azhar menegaskan bahwa dunia membutuhkan keadilan yang memulihkan nurani kemanusiaan, serta mengingatkan bahwa setiap kezaliman sekecil apa pun adalah luka bagi seluruh umat manusia.
“Dunia tidak akan bangkit kembali kecuali jika mengakui bahwa keadilan adalah hukum tertinggi kehidupan, dan perdamaian adalah buahnya,” tutupnya.