Dr Salah Al-Shami: Islam Banyak Melahirkan Ulama Perempuan
Dr Salahuddin Al-Shami memberi kuliah umum di hadapan santriwati NWDI, Pancor, NTB
Intelektual Universitas Al-Azhar Dr Salahuddin Al-Shami memberikan motivasi kepada para santriwati di Indonesia untuk mencari ilmu dan mengejar cita-cita setinggi mungkin. Dia berharap para santriwati tidak sekedar belajar dan mengaji, tapi juga memperdalam ilmu hingga menjadi ulama perempuan.
“Ulama di bumi seumpama bintang. Dia menjadi penerang, petunjuk, sekaligus penghias. Ulama menjadikan bumi ini menjadi indah, aman, bahkan terang benderang,” terang Dr Salahuddin di hadapan ratusan santriwati Pesantren Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah, Pancor, Kamis (31/8/2023).
Kedatangan ulama Al-Azhar ini ke Indonesia sebagai bagian dari upaya Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Indonesia untuk menebar nilai-nilai persaudaraan, hidup bersama (koeksistensi) di tengah keragaman.
“Setan dan iblis tidak suka bintang. Demikian juga ulama, tidak disukai iblis dan setan. Maka, carilah ilmu dan jadilah bintang penerang bumi,” sambungnya.
Dr Al-Shami menegaskan, pandangan bahwa ulama identik dengan laki-laki itu tidak benar. Menurutnya, sejarah mencatat bahwa Islam banyak sekali melahirkan ulama perempuan.
“Ulama tidak identik dengan kaum Adam. Sejarah Islam banyak melahirkan ulama perempuan. Aisyah ra adalah guru para sahabat Nabi. Imam Az-Zarkasyi dan Imam As-Suyuti bahkan menulis kitab tentang peran Aisyah ra dalam mengajar para sahabat. Aisyah adalah ahli Fiqih dan Hadis. Aisyah maha guru sahabat Nabi,” terangnya.
Ada juga Karimah Al-Marwaziyah. Dia adalah seorang wanita ahli hadis di mana para ulama besar datang mengaji kepadanya. “Bahkan, ulama sekelas Al Khatib Al-Baghdadi yang masyhur sebagai ahli hadis, juga menjadi muridnya,” sebutnya.
Tidak hanya mengajar, kata Al-Shami banyak juga wanita yang mengarang kitab. Ada Biba, seorang ulama perempuan yang ahli hadis. Banyak ulama hadis belajar kepadanya, termasuk Imam Azd Dzahabi. Ada juga Jundah binti Ahmad Al-Katibah yang mengarang banya kitab dan menjadi rujukan ulama hadis.
“Sejarah Islam penuh dengan wanita yang menjadi ulama berpengruh dan menjadi rujukan, baik tentang Al-Quran maupun Sunnah,” tandasnya.