Dr. Ahmed Al-Haddad: Dialog Satu-satunya Jalan Menyatukan Umat Islam
.
Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al Haddad, Anggota Majelis Hukama Muslimin (MHM), Anggota Dewan Fatwa UEA, Mufti Senior dan Direktur Departemen Fatwa di Dubai, menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mendorong dialog dan keterlibatan, baik dengan mereka yang setuju maupun yang tidak setuju. Dialog adalah satu-satunya cara untuk memahami orang lain. Itulah sebabnya dialog telah menjadi pilar mendasar dakwah Islam.
Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya (saw): “Ajaklah semua orang ke jalan Tuhanmu dengan hikmat dan nasihat yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (Al-Quran, 16:125).
Melalui siaran pers MHM, Jumat (7/3/2025), Dr. Al Haddad menjelaskan bahwa argumentasi di sini mengacu pada dialog, yang dipraktikkan Nabi (saw) sepanjang misinya—baik dengan kaumnya sendiri maupun dengan mereka yang diajaknya ke jalan Allah. Allah SWT berfirman: “Katakanlah, ‘Hai Nabi,’ “Hai Ahli Kitab, marilah kita sepakat, bahwa kita tidak akan menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah.” Tetapi jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Saksikanlah bahwa kami telah berserah diri kepada Allah semata.” (Al-Quran, 3:64)
Dr. Al Haddad, anggota MHM, menambahkan bahwa sebagaimana Nabi (saw) berbicara kepada Ahli Kitab dengan hikmah seperti itu, demikian pula semua nabi (saw) melakukannya. Setiap nabi melibatkan umatnya dalam dialog yang ramah untuk membimbing mereka menuju kebenaran yang diwahyukan oleh Allah dan untuk menuntun mereka ke jalan yang lurus.
Ia menjelaskan bahwa jika pendekatan ini digunakan dengan mereka yang berada di luar agama kita, maka pendekatan ini bahkan lebih diperlukan—dan seharusnya lebih disempurnakan—ketika terlibat dalam dialog intra-Islam di antara berbagai sekte dan kelompok yang berbagi pernyataan iman, rukun Islam, kiblat, dan prinsip-prinsip inti iman. Hal ini karena Allah telah menghendaki agar semua umat Islam menjadi satu bangsa yang bersatu, mengikuti satu jalan yang lurus. Inilah identitas spiritual mereka yang menentukan, sebagaimana Allah berfirman: “Sesungguhnya agamamu ini hanyalah satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku saja.” (Al-Quran, 21:92) Dan juga: “Sesungguhnya agamamu ini adalah agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Quran, 23:52) Dengan mengulang pesan ini dalam dua ayat Al-Quran, Allah menegaskan bahwa persatuan adalah prinsip dasar keimanan, yang penting bagi ibadah sejati dan kebenaran.
Dr. Al Haddad menyerukan upaya bersama untuk memajukan dialog yang menghilangkan hambatan psikologis di antara komunitas Muslim dan menumbuhkan rasa saling percaya. Hal ini, jelasnya, adalah misi inti MHM sejak didirikan, khususnya ditekankan dalam konferensi terbarunya, yang berjudul “Satu Bangsa, Satu Masa Depan.” Tema seperti itu menyatukan umat Islam di bawah tujuan bersama. Beliau lebih jauh menekankan pentingnya menerjemahkan dialog ke dalam realitas konkret, khususnya mengingat tantangan berat yang dihadapi umat Islam saat ini—tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam lingkup kolektifnya, yang memengaruhi setiap mazhab dan komunitas Islam.
Dalam konteks ini, beliau mengingatkan perintah ilahi Allah: “Dan berpegang teguhlah kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah akan karunia Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, kemudian Dia mempersatukan hatimu, maka kamu menjadi bersaudara dengan karunia-Nya. Dan kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Al-Quran, 3:103)
Dr. Al Haddad menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaannya kepada Yang Mulia Profesor Dr. Ahmed Al-Tayeb, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua MHM, atas usahanya yang diberkahi dan dedikasinya yang tak kenal lelah untuk mempersatukan umat Islam. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Sekretariat Jenderal MHM atas upaya berkelanjutannya dalam menyelenggarakan berbagai inisiatif yang bertujuan untuk memupuk persatuan dan mempromosikan perdamaian di seluruh dunia. Ia mengakhiri khutbahnya dengan berdoa kepada Allah SWT agar mempersatukan hati umat Islam di atas kebenaran dan petunjuk serta agar mereka selalu berada di jalan yang lurus.