Diskusi Piagam Persuadaraan, Ini Penjelasan Ulama Al Azhar tentang Watsiqah Al Ukhuwwah Al Insaniyyah
Intelektual Al Azhar Mesir, Dr Salahuddin El Shami di Stan Pameran MHM pada IBF 2023
Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al Tayeb bersama pemimpin gereja Katolik Paus Fransiskus telah menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan (Koeksistensi).
Dalam bahasa Arab, dokumen ini disebut dengan Watsiqah Al-Ukhuwwah Al-Insaniyyah. Ketiga istilah ini dijelaskan maknanya oleh Intelektual Mesir, Dr Salahuddin El Shami dalam Diskusi dan Bedah Buku tentang Piagam Persaudaraan Manusia.
Diskusi dan Bedah Buku ini diselenggarakan Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia di stan pameran MHM pada Islamic Book Fair ke-21 di Istora Senayan, Jakarta. Hadir juga sebagai narasumber, Direktur MHM cabang Indonesia Dr Muchlis M Hanafi.
"Ada hubungan antara piagam persaudaraan ini dengan Syariah. Bahkan piagam ini bagian dari upaya mewujudkan maqasidus syariah," demikian penegasan Dr Salah, panggilan akrabnya, saat mengawali penjelasan, Jakarta, Sabtu (23/9/2023).
Menurutnya, hubungan piagam ini dengan syariah, bahkan tercermin dari tiga istilah yang digunakan sebagai namanya. Pertama, Watsiqah. Menurut Dr. Salah, Nabi meridai semua kesepakatan yang ditujukan untuk melayani manusia.
"Nabi sebelum diutus menjadi seorang Rasul, juga bersepakat dengan para tokoh Quraisy untuk menolong orang terzalimi, menolong kaum lemah," sebutnya.
"Nabi sejak sebelum diutus adalah sosok yang semangat pada persaudaraan dan kemanusiaan. Dan setelah diutus, Nabi Muhammad adalah nabi rahmah," lanjutnya.
Semangat ini, kata Dr Salah, antara lain tercermin dalam kisah hijrah Nabi ke Thaif. Saat itu, Nabi mendapat penolakan bahkan disakiti. Saat Malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk menghancurkan masyarakat Thaif, Nabi justru mendoakan agar dari keturunan warga Thaif, lahir orang yang beriman kepada Allah.
Semangat persaudaraan dan kemanusiaan Nabi Muhammad juga tercermin dalam kisahnya ditodong pedang saat sedang istirahat. Pemuda kafir yang menodongkan pedangnya lalu bertanya, "Siapa yang akan menolongmu?" Nabi menjawab, Allah. Seketika pedang yang terhunus itu jatuh dan giliran Nabi yang bertanya, "Siapa yang akan menolongmu?"
Pemuda itu memohon untuk dimaafkan, dan Nabi memaafkan. Nabi sempat mengajaknya masuk Islam, tapi pemuda itu menolak. Lalu, Nabi meninggalkannya. Saat kembali ke kelompoknya, pamuda itu berkata, "Saya baru saja bertemu dengan orang yang paling baik."
Istilah kedua adalah ukhuwwah. Artinya, persaudaraan. Ada dua persaudaraan, keislaman dan kemanusiaan. "Kalau persaudaraan keislaman, banyak dijumpai dalam Al-Quran dan Hadis," jelasnya.
Terkait persaudaraan kemanusiaan, dalilnya antara lain bisa dipahami dari ayat, wa ilaa 'aadin akhaahum huuda. Ayat ini bercerita tentang kaum 'Ad yang dipersaudarakan oleh Hud.
"Bisa jadi tidak ada hubungan nasab di antara keduanya. Tapi ada kesadaran bahwa mereka hidup dalam satu negara. Sehingga saat ada masalah saling membantu," paparnya.
Mengutip pesan Sahabat Ali, Dr Salah menegaskan, "Manusia adakalanya saudara kamu dalam agama atau setara dalam kemanusiaan.”
“Semua kita hidup bersama dalam bumi ini dengan semangat persaudaraan," lanjutnya.
Istilah ketiga, Al-Insaniyah. Dr Salah mengawali dengan adagium 'memanusiakan manusia sebelum mengajak pada agama'.
Kemanusiaan, kata Dr Salah, antara lain tercermin dalam kisah turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad. Setelah menerima wahyu, Nabi pulang ke rumah dalam keadaan khawatir dan minta diselimuti. Lalu Khadijah mengatakan, tidak usah khawatir karena tidak ada yang akan menyusahkanmu selamanya.
Kenapa Khadijah tahu? Bukankah saat itu suaminya belum diutus sebagai Nabi? Khadijah yakin karena Muhammad adalah orang yang menyambung silaturahim, memuliakan tamu, membantu yang menbutuhkan, dan membela kebenaran.
"Nabi sebelum menyeru pada syariat, menjadi sosok yang sangat memanusiakan manusia. Semua ini dalam rangka memuliakan manusia," tegas Dr Salah.
Terakhir, Dr Salah menjelaskan kenapa umat Muhammad menjadi warga terbaik. Al-Quran menginformasikan bahwa umat Muhammad adalah yang terbaik karena mendahulukan kebaikan manusia. Perintah untuk amar maruf nahi munkar didahulukan dari perintah beriman kepada Allah.
"Nabi juga berpesan bahwa sebaik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya," ujarnya.
"Nabi menyuruh kita berbuat kepada semua manusia, menyayangi yang di bumi hingga kita semua disayangi yang di langit," tandasnya.