Direktur MHM Indonesia: Dokumen Abu Dhabi Tegaskan Kemuliaan Manusia dan Keniscayaan Perbedaan
Direktur MHM cabang Indonesia Muchlis M Hanafi beri sambutan pada Seminar Hari Persaudaraan Manusia di UIN Surakarta
Sejak ditandatangani pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi, Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Koeksistensi telah menginspirasi banyak orang untuk terus mengupakan perdamaian dunia. Ada yang memasukannya sebagai bagian dari konstitusi negara seperti di Timor Leste, ada yang menjadikannya sebagai bagian kurikulum pendidikan.
Dokumen Abu Dhabi ditandatangani oleh Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus. Direktur Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Indonesia Muchlis M Hanafi mengatakan ada banyak pesan penting dalam dokumen persaudaraan manusia, dua di antaranya menitikberatkan pada pemuliaan manusia dan keniscayaan perbedaan.
“Dokumen Abu Dhabi tegaskan kemuliaan manusia dan keniscayaan perbedaan,” terang Muchlis M Hanafi saat berbicara pada Seminar Persaudaraan Manusia di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said, Surakarta, Kamis (2/2/2023). Seminar ini digelar atas kerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Indonesia dalam rangka memperingati Hari Persaudaraan Manusia Internasional.
Berkenaan dengan kemuliaan manusia, Muchlis, penggilan akrabnya, mengatakan agama sangat menjunjung tinggi kemanusiaan. Al-Quran sangat memuliakan manusia. Salah satu ayat Al-Quran menegaskan, Sungguh telah Kami mulaikan anak keturunan Adam. Istilah yang digunakan adalah keturunan Adam, tanpa membedakan agama, suku, bangsa, bahasa dan etniknya. Semua umat manusia, tanpa terkecuali, dimuliakan Allah.
“Karenanya, semua tindakan perbuatan yang merenggut kemanusiaan, merendahkan kemanusiaan, tidak sejalan dengan ajaran agama itu sendiri,” tegasnya.
“Kalau ada paham keagamaan yang mengajak pada kekerasan dan kebencian, itu bukan saja tidak sejalan dengan nilai agama, tetapi juga melawan atau bertentangan dengan agama dan perintah Tuhan yang Maha Esa,” lanjutnya.
Atas dasar kemuliaan itu, lanjut Doktor Tafsir Al-Quran lulusan Al-Azhar ini, maka agama mengajarkan nilai persamaan, persaudaraan dan tidak ada diskriminasi atas nama apapun, baik agama, etnik, suku, ras, dan sebagainya. “Kita temukan dalam dokumen Abu Dhabi, ada pembelaaan yang cukup kuat terhadap kaum lemah, kaum tertindas,” jelasnya.
Dalam sejarah Islam, kata Muchlis, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menghormati manusia tanpa membedakan apa itu agamanya. Dalam piagam Madinah misalnya, sangat kental terlihat bahwa Rasulullah memperlakukan seluruh elemen yang ada di sana, terlepas dari perbedaan suku dan agama yang ada, dengan memberikan hak hak yang sepenuhnya. Disebutkan dalam Piagam Madinah, mereka (Yahudi dan Nasrani) memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita (muslim).
“Dokumen Abu Dhabi menawarkan sebuah konsep yang disebut dengan kewarganegaraan. Kita tidak lagi melihat minoritas dengan mayoritas yang terkesan meremehkan satu kelompok masyarakat, tapi melihatnya dari sisi kewarganegaraan yang di situ masing-masing memiliki hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada diskriminasi,” jelasnya.
Pesan kedua yang termaktub dalam Dokumen Abu Dhabi adalah keniscayaan perbedaan. Manudia diciptakan Allah, berbeda beda, baik agama, warna kulit, maupun Bahasa. Bahkan, alam diciptakan warna warni, tumbuhannya maupun binatangnya. Semua diciptakan beragam dan manusia diciptakan memang untuk berbeda.
“Perbedaan itu sebuah keindahan dan harus dikelola dengan baik dengan menciptakan ruang ruang perjumpaan. Dengan itu, kita bisa saling mengenal, menghormati dan menghargai, lita’aarafu,” paparnya.
“Dalam rangka itulah kita membangun ruang perjumpaan. Di sinilah pentingnya kita menyelenggarakan dialog, menggali nilai yang ada dalam setiap agama yang mempersatukan kita, mempersamakan kita,” ucapnya lagi.
Melalui seminar Hari Persaudaraan Manusia, Muchlis mengajak semua pihak untuk menjunjung tinggi nilai kemanusian yang mempersatukan semua. “Mari kita kembangkan, hidupkan nilai kemanusiaan yang akan mempersatukan kita sehingga kita bisa hidup bersaudara, berdampingan secara damai,” harapnya.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari beragam latar belakang agama. Hadir, Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid (Universitas Al Azhar-Mesir), Romo Dr. Aloys Budi Purnomo, Pr. (Unika Semarang) KH Taslim Sahlan (Ketua FKUB Jawa Tengah) Summartono Hadinoto (Penerima Award Religion Freedom Bussines Foundation UNAOCC-PBB) Pdt. Izak Lattu, Ph.D (UKSW Salatiga) Bhikku Dhammamito (Wakil Ketua Bhikku Pembina Umat Buddha DIY) dan Ida Bagus Komang Suarnawa, M.Pd.H (Ketua PDHI Surakarta).