Di Milan, Sekjen MHM Paparkan Peran Dokumen Persaudaraan Manusia Sebagai Katalis Aksi Melawan Intoleransi dan Diskriminasi
Sekjen MHM Konselor Mohamed Abdelsalam
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), Konselor Mohamed Abdelsalam, menegaskan bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia, yang disampaikan kepada dunia oleh Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, dari Abu Dhabi pada 2019, adalah pesan yang terus berkembang dan telah mengkatalisasi berbagai inisiatif global. Hal ini telah memicu berbagai inisiatif global dan mengilhami upaya kolaboratif lebih lanjut untuk menegakkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan cita-cita kemanusiaan yang inklusif, sebagai respons terhadap narasi intoleransi, kebencian, diskriminasi, dan Islamofobia. Upaya berkelanjutan ini akan dilakukan secara kolektif, melalui kemitraan dengan lembaga-lembaga global.
Ini adalah pesan Konselor Abdelsalam yang disampaikan Presiden dan Imam Komunitas Keagamaan Islam Italia, Imam Yahya Pallavicini, pada meja bundar bertajuk "Persaudaraan Keagamaan dan Kohesi Sosial untuk Perdamaian", Kamis (29/2/2024). Acara ini juga menandai peringatan tiga puluh tahun berdirinya Komunitas Keagamaan Islam Italia dan berlangsung di Februari, bulan di mana dunia memperingati Hari Persaudaraan Manusia Sedunia. Pemilihan Milan, sebuah kota yang terkenal dengan warisan budaya, sastra, dan seninya, sebagai tempat diskusi ini menggarisbawahi pentingnya persaudaraan manusia dan hidup berdampingan secara damai.
Sekretaris Jenderal MHM, lebih lanjut mencatat peran Italia sebagai pusat spiritual global dan model hidup berdampingan antaragama di antara tiga agama Ibrahim. Konselor Abdelsalam menekankan bahwa pertemuan ini menjawab tantangan persaudaraan dan hidup berdampingan secara damai di antara orang-orang dari berbagai agama, budaya, dan etnis, yang bertujuan untuk menyatukan mereka melawan tantangan global yang dihadapi umat manusia bersama.
Dalam pidato penutupnya, Sekjen MHM memuji kontribusi positif umat Islam di Italia, khususnya di Milan, yang ia gambarkan sebagai kota unik yang merangkul keberagaman dan hidup berdampingan. Ia memuji Milan sebagai mercusuar keterbukaan beragama, menjadikannya lokasi yang ideal untuk pertemuan meja bundar yang didedikasikan untuk melawan intoleransi, xenofobia, dan Islamofobia.
Pertemuan meja bundar bertajuk "Persaudaraan Beragama dan Kohesi Sosial untuk Perdamaian" ini diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Politik Universitas Milan dan dihadiri oleh berbagai pemimpin agama, pemikir, dan politisi.