Buka Pameran Turats Nusantara, Wapres: Dunia Ingin Belajar Toleransi dari Indonesia
Wapres RI KH Ma'ruf Amin
Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin kembali menyampaikan keinginan masyarakat dunia untuk belajar tentang toleransi dari Indonesia. Wapres sekali lagi menceritakan pengalamannya saat menerima kedatangan Sekjen Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) Dr Sultan Al-Remeithi beserta jajaran di rumah dinasnya pada akhir Desember 2021.
Menurut Wapres, MHM merupakan lembaga internasional yang menghimpun berbagai cendekiawan muslim dari berbagai negara di seluruh dunia. Organisasi ini berpusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ketua MHM adalah Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayyeb.
Kepada Wapres, Sekjen Al-Remeithi mengatakan bahwa kedatangannya untuk belajar toleransi dari Indonesia. “Saya datang ke Indonesia bukan untuk mengajari orang Indonesia, terutama tentang masalah toleransi. Saya ke sini justru ingin belajar, karena Indonesia terkenal dengan negara yang sangat toleran di dunia dan bisa dijadikan rujukan dalam rangka pengembangan Islam di seluruh dunia,” ujar Wapres menirukan pernyataan Al-Remeithi.
Hal ini disampaikan Wapres saat memberikan sambutan virtual pada Pameran Turats Nusantara yang digelar oleh Nahdlatut-Turats NU di Jakarta, Selasa (8/2/2022). Ikut menyaksikan, Ketua BPK, Rois Aam PBNU KH Miftahul Achyar, Wakil Ketum PBNU, serta para Dubes Negara Sahabat.
Sekjen MHM, lanjut Wapres, juga mengatakan bahwa saat ini diperlukan upaya untuk menyosialiasikan karya toleransi dan keberagaman Indonesia pada dunia. “Kepada saya, Sekjen MHM mengatakan bahwa sekarang ini karya berbahasa Indonesia harus diterjemahkan ke Bahasa Arab, sebab nilai keagamaan yang wasathy dan toleran itu justru ada di kehidupan bangsa Indonesia,” tutur Wapres.
“Ini tidak terlepas dari pengaruh para ulama, terutama Syekh Nawawi, Syekh Cholil Bangkalan, dan Syekh Hasyim Asy’ari Jombang,” sambungnya.
Pameran Turats Nusantara ini antara lain memamerkan karya-karya Syekh Nawawi. Menurut Wapres, Ilmu Syekh Nawawi telah mengharumkan nama bangsa Indonesia di dunia internasional. Sebab, karir intelektual Syekh Nawawi sampai menjadi maha guru ulama dunia Islam yang mengajar di Masjidil Haram, Kota Suci Makkah pada Abad XIX Masehi.
Selain dikenal dengan kitab karyanya, ujar Wapres, Syekh Nawawi juga memberikan andil dalam membangun karakter muslim nusantara yang toleran moderat, serta penuh rahmah, kasih sayang, serta welas asih.
“Syekh Nawawi al Bantani juga memberikan contoh semangat kepada para ulama di Indonesia, khususnya generasi muda untuk membuat karya tulis yang berkualitas sejak ratusan tahun yang lalu,” sebut KH Ma’ruf Amin.
“Karya, literasi dan kajiannya menumbuhkan jiwa nasionalisme. Aktivitas di bidang keilmuan ini dijalani oleh Syekh Nawawi hingga akhir hayatnya,” sambungnya.
Wapres KH Ma’ruf Amin berharap sebagai pewaris tradisi keilmuan Islam yang kaya di masa silam, seyogyanya ingatan, spirit, dan kesadaran bangsa Indonesia akan kemegahan dan kebesaran leluhur dapat dibangkitkan Kembali. “Hal ini penting untuk mendorong munculnya karya-karya baru tentang keislaman yang sarat akan ilmu pengetahuan sesuai perkembangan zaman seraya tetap mengajak pada jalan kebaikan dan menguatkan persatuan dan kesatuan,” tandasnya.