Bicara Islamofobia, TGB Zainul Majdi Jelaskan Pentingnya Dialog, Rasional, dan Salam
TGB Zainul Majdi bahas Islamofobia di Islamic Book Fair 2022
Anggota Eksekutif Majelis Hukama Muslimin (MHM) Dr. TGB Zainul Majdi menegaskan bahwa fenomena Islamofobia bukan hal baru. Menurutnya, Al-Qur’an bahkan merekam perilaku orang-orang yang membenci Islam dan menghina Rasulullah saw.
“Terkadang beliau disebut penyair, kadang tukang sihir, bahkan orang gila,” kata TGB saat menjadi pembicara pada diskusi publik bertajuk “Fenomena Islamofobia: Bagaimana Kita Menghadapinya?” di Jakarta, Kamis (4/8/2022).
Diskusi publik ini digelar MHM sebagai rangkaian keikutsertaannya dalam Islamic Book Fair ke-20 tahun 2022 di Hall A JCC Senayan, Jakarta. Hadir juga sebagai narasumber Ketua Majelis Ulama Indonesia Bidang Dakwah Dr. KH Cholil Nafis. Selaku moderator, Sekjen Muslim Elders Indonesia Dr. Muchlis M Hanafi.

TGB yang juga Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA), melihat bahwa di Indonesia, fenomena Islamofobia mulai muncul dan menguat kembali sejak 1990-an. Beberapa peristiwa besar di dunia ikut berperan dalam menguatkan ketakutan pihak Barat terhadap Islam. Di antaranya, kata TGB, revolusi Iran yang kemudian melahirkan negara Republik Islam Iran. Selain itu, Uni Soviet yang merupakan salah satu kekuatan besar dunia saat itu, kalah dalam perang melawan Afghanistan. Tidak kalah pentingnya adalah peristiwia 11 September 2001.
Berpegang pada ungkapan an-nâs a’dâ’u ma jahilû (manusia cenderung memusuhi apa yang mereka tidak tahu), TGB mengajak peserta diskusi untuk terus membangung dialog. “Rasulullah saw. sendiri, adalah sosok yang bersikap terbuka. Rasulullah tidak mengajarkan sikap eksklusif,” terang Ketua Nahdhatul Wathan Diniyah Islamiyah ini.
Hal kedua yang perlu dilakukan, kata TGB adalah menghadirkan wajah Islam yang rasional, tidak hanya sebagai norma. Misalnya, mengapa LGBT dilarang, karena semua pihak harus juga menghormati lembaga perkawinan. Hal itu perlu dijelaskan dengan narasi yang masuk akal dan didukung oleh ilmu pengetahuan.

Ketiga, lanjut TGB, menampilkan wajah Islam yang damai dan maju. Islam yang berasal dari kata salam (yang artinya ‘damai’) harus dibuktikan dengan masyarakat yang damai. “Begitu juga ketika berbicara tentang kemajuan teknologi, jangan melulu menyebut Al-Farabi sebagai contohnya, tetapi siapa orang-orang Islam yang mendapat hadiah Nobel, misalnya,” tuturnya.
Hal senada disampaikan KH Cholil Nafis. Menurutnya, Islamophobia muncul karena ketidaktahuan mereka tentang Islam yang benar. Kenyataan ini juga harus dapat mendorong umat Islam untuk melakukan introspeksi diri. “Sudahkah kita menampilkan akhlak mulia yang dicontohkan oleh Rasulullah?,” tanyanya kepada pengunjung yang memadati stan pameran.
Untuk menanggulangi fenomena Islamophobia, Cholil Nafis juga berpandangan akan perlunya menghadirkan dakwah Islam yang moderat, damai, dan menyejukkan. Dalam konteks ini, perlu upaya keras untuk mempromosikan wasathiyah Islam.

“Secara institusi, dalam negara kesatuan republik Indonesia tidak ada kebencian terhadap Islam. Negara memfasilitasi umat beragama dalam menjalankan ajaran agama dan menjamin hak-hak keagamaan warga negara. Tentu saja, tidak bisa dinafikan bila ada pihak-pihak tertentu yang tidak menyukai Islam, terutama bila sudah berkaitan dengan hukum pidana Islam,” tegasnya.
Majelis Hukama Muslimin adalah sebuah lembaga independen lintas negara yang didirikan pada 21 Ramadan 1435 H atau 19 Juli 2014. MHM bertujuan mengukuhkan perdamaian dan menciptakan rasa aman pada masyarakat muslim. Lembaga yang berkedudukan di Abu Dhabi ini beranggotakan sejumlah ulama, pakar, dan tokoh yang memiliki karakter bijak, adil, independen, dan berpikiran wasathiyah.
MHM merupakan sebuah lembaga yang berupaya menyatukan umat Islam dan meredam konflik yang mengancam nilai-nilai kemanusiaan dan prinsip dasar Islam toleran yang dialami oleh Dunia Islam sejak beberapa dekade terakhir.