Bertemu Paus Fransiscus, Syekh Al Azhar Jelaskan Konsep Islam tentang Lingkungan
Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb bertemu dengan Paus Fransiscus di Roma, Italia. Pertemuan kedua tokoh agama ini berlangsung dalam Konferensi Pemimpin Agama dan Saintis di Roma, Italia, Senin (4/10/2021).
Acara ini digelar untuk menyambut Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim (Conference of Parties 26 atau COP26). KTT PBB tentang perubahan iklim itu sendiri rencananya diselenggarakan di Glasgow, Inggris, pada November 2021.
Menurut Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb, pandangan Islam tentang lingkungan hidup dan perubahan iklim berlandaskan pada tiga kenyataan keimanan. Pertama, Islam tidak memandang dunia benda tak bergerak sebagai benda-benda mati yang tidak memiliki kesadaran. Sebaliknya, Islam memandang benda-benda itu, bahkan juga dunia-dunia lainnya seperti dunia manusia, flora, fauna, benda-benda tak bergerak, dan sebagainya, sebagai makhluk hidup yang beribadah dan bertasbih kepada Allah dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia.
“Jika kita menerima bahwa makhluk-makhluk itu bertasbih, tentu tidak ada alasan untuk tidak menerima bahwa mereka adalah makhluk hidup. Sebab mustahil makhluk atau benda mati dapat bertasbih maupun beribadah,” tegas Imam Akbar yang juga Ketua Majelis Hukama Al-Muslimin.
Kedua, kisah penciptaan di dalam Al-Qur’an, sebagaimana juga disebut di dalam Alkitab, menegaskan bahwa manusia pertama yang turun ke bumi, diturunkan sebagai khalifah Allah di bumi. Allah yang menugaskannya sebagai khalifah setelah sebelumnya Dia menyiapkan bumi untuk kepentingan sang khalifah dengan pengaturan yang sangat teliti dan pemeliharaan yang luar biasa.
“Allah mengingatkan khalifah-Nya, manusia, untuk tidak melakukan perusakan di bumi dalam bentuk apa pun,” ujarnya.
Kenyataan ketiga, Allah menugaskan para nabi dan rasul agar mengingatkan kaumnya untuk tidak melakukan perusakan di bumi setelah Allah menjadikannya baik. Disebutkan di dalam Al-Qur’an bahwa ada sebagian manusia yang akan melakukan perusakan di bumi. Mereka yang melakukan perusakan itu akan terkena bencana, baik yang menimpa jiwa, harta, maupun bahan makanan mereka, sebagai balasan atas perbuatan mereka agar mereka sadar.
“Dari ketiga kenyataan ini, dapat kita pahami dengan jelas bahwa Allah Swt. mengamanatkan bumi kepada manusia dan memerintahkan manusia untuk berinteraksi dengan semua makhluk di dalamnya sebagai sahabat,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Imam Akbar mengajak pemuda, tokoh agama, dan para ilmuwan untuk mewaspadai dampak perubahan iklim global. “Kepada setiap pemuda muslim yang mendengar seruan ini, bahkan kepada setiap pemuda yang memiliki kesadaran hati kecil, apa pun agama atau keimanannya, awasilah berbagai aktivitas yang dapat membahayakan lingkungan hidup atau memperburuk krisis iklim,” terang Imam Akbar.
“Saya juga mengajak saudara-saudara dan sahabat-sahabat saya, para ilmuwan dan pemimpin agama, untuk melaksanakan tugas keagamaannya bertanggung jawab secara penuh terhadap krisis ini,” tandasnya.