Belajar Strategi Mempersaudarakan dari Rasulullah
Direktur Majelis Hukama Muslimin Cabang Indonesia Muchlis M Hanafi
Direktur Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Indonesia Muchlis M Hanafi mengajak umat Islam untuk belajar dari strategi mempersaudarakan (al-mu’akhah) yang dilakukan Rasulullah saw, saat membangun Madinah.
Pesan ini disampaikan Muchlis M Hanafi saat menyampaikan kajian di Masjid Istiqlal, Jakarta. Kajian ini mengangkat tema tentang Persaudaraan Manusia. Tema ini disajikan secara khusus dalam rangka peringatan Hari Internasional Persaudaraan Manusia.
Hari Internasional Persaudaran Manusia ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada 4 Februari 2019. Sejak itu, tanggal 4 Februari diperingai sebagai Hari Internsional Persaudaraan Manusia.
Mengawali paparannya, Doktor Tafsir lulusan Al-Azhar ini mengutip salah satu ayat Al-Quran yang menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dalam keadaan mulia. Sungguh telah kami muliakan anak keturunan Adam.
“Yang disebut Bani Adam, bukan hanya yang muslim. Artinya terlepas dari berbagai perbedaan agama, budaya, warna kulit, etnik, semua manusia dimuliakan Allah,” jelasnya.
Atas dasar kemulaiaan itu, lanjut Muchlis, Rasulullah Saw sangat menghormati orang lain, termasuk yang berbeda agama. Dalam riwayat disebutkan, Rasulullah saw berdiri sebagai tanda penghormatan, saat ada iringan jenazah yang melewatinya. Ketika diinformasikan bahwa jenazah itu adalah orang Yahudi, Rasulullah menjawab, “Bukankah dia juga manusia?”
“Jadi Islam mengajarkan kita untuk menghormati manusia, baik dalam keadaan hidup maupun dalam keadaan mati,” jelas Muchlis.
“Islam menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Karenanya, jika ada paham keagamaan yang merendahkan harkat martabat kemanusiaan, kalua ada fatwa keagamaan yang sangat mudah merenggut nyawa manusia, bisa dipastikan bahwa paham seperti itu bukan saja tidak sejalan dengan nilai agama, tetapi juga bertentangan dengan ajaran agama yang sesungguhnya sangat memuliakan manusia," sambungnya.
Berangkat dari kemuliaan yang Allah berikan kepada manusia, lanjut Muchlis, Rasulullah memberikan perlakuan yang sama, baik kepada Muslim maupun Non Muslim. Di Madinah, ada banyak orang Yahudi (Bani Nadhir dan Bani Quraidhah). Tetangga jazirah Arab, juga banyak orang Kristen (Najran).
Namun, perbedaan agama bukan penghalang untuk hidup bersama. Maka dibuatlah piagam yang mengatur bahwa semua yang ada di Madinah adalah satu kesatuan. Mereka mempunyai hak dan kewajiban yang sama sehingga bisa hidup damai.
"Ini salah satu kunci keberhasilan Rasulullah dalam membangun peradaban Islam. Dimulai dari konsep mempersaudarakan," sebut Muchlis yang juga Sekretaris Baznas.
Di Madinah ada Suku Auz dan Khazraj yang selalu berkonflik sampai ratusan tahun. Oleh Rasulullah, mereka berhasil dipersaudarakan dengan Islam.
Ketika ada perintah untuk berhijrah, maka ada Muhajirin dan Ansor. Ada orang yang datang dari Makkah lalu tinggal di Madinah. Dengan strategi al-muakhah, orang Makkah dipersaudarakan dengan Ansor. Begitu disatukan, melebur. Orang-orang ansor sangat mencintai saudaranya yang berhijrah.
Mereka lebih mendahulukan saudara mereka yang datang dari Makkah walaupun mereka kekurangan.
"Inilah yang menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat Madinah, semangat mempersaudarakan. Antara Ansor dan Muhajirin selesai. Antara penduduk Madinah yang beragam, selesai melalui Piagam Madinah. Demikian juga dengan Kristen Najran, Nabi juga menjalin komunikasi yang baik," urainya.
"Nabi membuat perjanjian bahwa mereka akan dilindungi dan dijamin keselamatannya. Kalua ada gereja yang rusak, silakan umat Islam bantu.
Itu tertuang dalam perjanjian," lanjutnya.
Tradisi ini, sambung mantan Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an ini, dilanjutkan para sahabat Nabi. Sayyidina Umar, misalnya, ketika berhasil menaklukan Palestina, yang pertama kali dilakukan adalah mengikat perjanjian damai dengan penduduk setempat melalui sebuah dokumen yang sekarang dikenal dengan Al 'Umdah Al 'Umariyah. Sayyidina umar memberikan jaminan keselamatan pada masyarakat Yahudi dan Kristen di wilayah itu bahwa mereka tidak akan diganggu. Rumah ibadah mereka tidak akan dirusak.
"Ini dilakukan agar masyarakat di situ bisa hidup berdampingan dengan beragam perbedaan yang ada," tegasnya.
Akan hal ini, Dr Muchlis berpesan bahwa Indonesia sangat beragam. Karenanya, sudah seharusnya keragaman yang luar biasa ini dijaga dengan pemahaman keagamaan yang baik. Keragaman masyarakat Indonesia hendaknya dilihat sebagai sebuah kekuatan yang diikat dengan semangat persaudaraan, bukan hanya persaudaraan seiman atau seagama, tapi juga persaudaraan kemanusiaan.
"Ada ungkapan Sayyidina Ali kepada gubernur Mesir, bahwa manusia itu ada dua golongan, antara saudara seagama seiman atau saudara dalam kemanusiaan," tandasnya.