Bedah Buku di IBF 2025, MHM Kaji Cinta Damai sebagai Karakter Ahlusssunnah Wal Jamaah
Bedah buku di Stan Pameran MHM pada IBF 2025
Majelis Hukama Muslimin (MHM) hari ini, Kamis (19/6/2025) menggelar bedah buku terjemah karya Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, bertajuk “Siapakah Ahlussunah Waljamaah karya Grand Syekh Al Azhar”. Hadir sebagai narasumber KH Abdullah Aniq Nawawi, MA (Gus Aniq), pengurus Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Ketua I MUI Gorontalo, dan pernah menjadi Ketua PCI NU Maroko.
Hadir, perwakilan MHM pusat yang datang dari Uni Emirat Arab, Dr Omar Obaedat, pengurus MHM kantor cabang Indonesia Nasywa Shihab, serta para pengunjung yang memadati stan pameran MHM.

Menurut Gus Aniq, buku karya Grand Syekh Al Azhar ini membahas dua hal pokok. Bagian pertama mengupas tentang definisi Ahlussunnah wal Jamaah. Bagian kedua, membahas tentan ciri khas dan karakter Ahlussunnah wal Jamaah.
“Siapa Ahlussunnah wal Jamaah itu penting jawabannya karena kita sedang “berebut” kelompok yang selamat. Sebab kita tahu ada hadis Nabi yang mengatakan bahwa Umat Islam akan terpecah menjadi 73 kelompok dan hanya satu kelompok yang selamat. Meski ada hadis lain yang menjelaskan bahwa semua masuk surga dan hanya satu kelompok yang tidak selamat, namun rwayat yang lebih popular, semua masuk neraka dan hanya satu yang selamat,” paparnya mengawali diskusi.
Pertanyaannya, siapa yang selamat? Menurut Gus Aniq, dalam beberapa Riwayat, Nabi menjawab dengan tiga ciri, yaitu: mereka mengikuti Nabi dan sahabatanya, kelompok jemaah, dan as-sawad al-a’dham atau kelompok mayoritas. “Nabi Muhammad tidak pernah mengatakan ahlussunah wal jamaah. Di kemudian hari muncul istilah ahlussunah wal jamaah untuk menerjemahkan siapa kelompok yang selamat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Aniq menjelaskan bahwa alasan Grand Syaikh Al Azhar, Imam Akbar Ahmad Al Tayeb menulis buku ini. Menurutnya, buku ini berangkat dari keinginan Grand Syekh Al Azhar untuk meneguhkan identitas keislaman. “Identitas utama seorang muslim adalah menjaga perdamaian,” sebutnya.
Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, kata Gus Aniq, merasakan kegelisahan dengan fenomena akhir-akhir ini karena banyak kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi suka perpecahan dan permusuhan. Padahal, selama ini Ahlussunah wal Jamaah dikenal cinta damai.
“Ini menjadi kegelisahan Syekh Ahmad Al Tayeb. Karena itu dia merasa penting untuk menulis buku ini dan di dalam bukunya dijelaskan siapa Ahlussunaah wal Jamaah,” tegasnya.
“Syekh Ahmad Al Tayeb dalam menulis buku mengambil rujukan sebagian besar adalah kitab-kitab yang dijadikan kurikulum di Al Azhar, yang sebagian juga diajarkan di pesantren. Misalnya, Jawharatut Tauhid dan lainnya,” lanjutnya.

Siapa Ahlussunah wal Jamaah?
Grand Syekh Al Azhar menjelaskan bahwa para ulama ketika menjelaskan siapa Ahlussunah wal Jamaah, umumnya mengarah pada dua kelompok besar. Pertama, kelompok Asya’irah, mereka yang mengukuti Mazhab Imam Abul Hasan Al Asy’ari (wafat 324 H). Kedua, Al-Maturidiyah, mereka yang mengikuti mazhhab Imam Abu Manshur Al Maturidy (wafat 333 H).
“Kedua mazhab ini selalu disebut, meski sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapakah tambahannya. Imam Tajuddin As-Subki misalnya mengatakan, selain Asya’irah dan Al Maturidiyah, yang termasuk Ahlussunnah wal Jamaah adalah Ahlul Hadits dan Ahlul Kasyf (orang-orang yang bergelut dalam dunia tasawwuf). Mereka juga termasuk Ahlussunah wal Jamaah,” papar Gus Aniq.
“Dalam Kitab Al-Farqu Bainal Firaq, Al Baghdadi menulis lebih banyak lagi, ada delapan kelompok yanag termasuk Ahlussunah wal Jamaah. Tapi pendekatan para ulama selalu memasukkan Asya’irah dan Al Maturidiyah sebagai keklompok aswaja paling mayoritas,” sambungnya.
Jadi, kata Gus Aniq, kalau menjawab pertanyaan utama dalam buku ini tentang siapa Ahlussunah wal Jamaah? Maka jawabannya, mayoritas adalah Asya’irah wal Maturidiyah. Sebagain ulama menambahkan yang lain, misalnya Ahlul Hadis dan Ahli Tasawwuf.
Cinta Damai Karakter Aswaja
Selain menjelaskan pendapat para ulama tentang siapa Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Grand Syekh Al Azhar, Ahmed Al Tayeb juga mengupas tentang ciri utama atau karakter pokok Aswaja, khususnya Asy’ariyah. Ada dua alasan yang dikemukakan.

Pertama, Mazhab Asyari merupakan kelanjutan dari Mazhab Salafunas-Salih, dari mazhab sahabat, tabiin, dan tabiit-tabiin. Jadi, imam Asy’ari tidak membuat mazhab baru, tapi merujuk pendapat ulama salaf. Salah satu metodologinya adalah menggabungkan antara akal dan naql.
“Salah satu karakter utama Mazhab Asy’ari adalah berpedoman pada naql (nash) dan tidak mengabaikan akal. Karena Imam Asy’ari menggunakan metode ini, maka dalam beberapa kesempatan, Mazhab Asy’ari menggunakan Takwil,” terang Gus Aniq.
“Jadi yang dilakukan Asy’ari itu bukan mazhab baru, tapi mengikuti metodologi para sahabat. Karena yang pertama kali melakukan Takwil adalah para sahabat. Dalam Tafsir Imam at Tabari, banyak riwayat sahabat yang mentakwil,” sambungnya.
Kedua, ciri khas Mazhab Abul Hasan Asy’ari adalah sangat mencintai kedamaian. Sebelum wafat, salah satu wasiat Imam Asy’ari, “Saksikan lah bahwa aku tidak pernah mengkafirkan satu orang pun yang salatnya menghadap kiblat. Karena semuanya menyembah Tuhan yang sama. Perbedaan hanya pada cara mengekspresikan ajaran agamanya”.
“Dua karakter inilah yang paling dominan dan yang paling menjadi ciri khas utama Asy’ariyah menjadi Mazhab Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.
“Kita harus tetap bangga dan berpegang teguh pada Mazhab Asy’ari. Karena kita butuh perdamaian,” tandasnya.