Bassem Tweissi: Lemahnya Sikap Saling Memahami, Picu Konflik Dunia
Mantan Menteri Kebudayaan Yardania Dr. Bassem Tweissi menilai lemahnya sikap saling memahami antar manusia telah berdampak besar dalam kehidupan dunia. Pesan ini ditegaskan Bassem Tweissi saat memberikan sambutan pada penutupan Konferensi ‘Media Melawan Kebencian” di Amman, Yordania, 28 September 2021.
Konferensi ini digelar Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) bekerjasama dengan Catholic Center for Media. Konferensi ini terselenggara di bawah perlindungan Pangeran Ghazi bin Muhammad, anggota MHM sekaligus Penasihat Senior Raja Kerajaan Hashemite Yordania, Raja Abdullah II Bin Al Hussein.
Konferensi yang berlangsung dua hari, 27 – 28 September 2021 ini dihadiri lebih dari 100 profesional media dari berbagai negara Arab.
Menurut Bassem Tweissi, lemahnya sikap saling memahami antar manusia telah memicu perang dan konflik di seluruh dunia. Beberapa media, lanjut Bassem, bahkan memiliki peran yang jelas dalam memicu konflik. Caranya, dengan mengobarkan perasaan kebencian, mereproduksinya dengan cara baru, dan mengubahnya dari perasaan menjadi gerakan.
“Apa yang telah hilang dari dunia Arab pada tahap ini jauh lebih banyak daripada apa yang hilang dalam perang sebelumnya,” tegas Bassem.
Hadir dalam sesi penutupan konferensi, pemikir Amerika dan penulis buku "Islam, the West and Tolerance: Realizing Coexistence" yang diterjemahkan oleh MHM ke dalam Bahasa Arab, Profesor Iron Tyler, mengatakan bahwa sebagai penulis, dirinya sudah menetapkan seperangkat kaidah agar tulisannya bermanfaat bagi kemanusiaan. Kaidah itu adalah pentingnya bersikap adil terkait apa yang ditulis. “Penulis harus mengatakan yang sebenarnya, meskipun sulit diterima, dan berangkat dari prinsip keadilan, kesetaraan, dan tidak merugikan orang lain,” tandasnya.