Anggota MHM Dr. Ahmed Al-Haddad: Islam Promosikan Kewarganegaraan yang Komprehensif, Cinta Tanah Air Bagian dari Iman
.
Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al-Haddad, Anggota Majelis Hukama Muslimin (MHM), Anggota Dewan Fatwa UEA, Mufti Senior, dan Direktur Departemen Fatwa di Dubai, menegaskan bahwa Islam datang untuk mempromosikan kewarganegaraan dalam arti yang komprehensif—yang didasarkan pada keharmonisan dan kerja sama di antara semua anggota masyarakat untuk mencapai kohesi sosial dan saling mendukung di saat dibutuhkan.
Hal ini, kata Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al-Haddad, dicontohkan Nabi Muhammad (saw) saat tiba di Madinah. Saat itu, Nabi segera meletakkan dasar-dasar kewarganegaraan di antara penduduk kota melalui apa yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Piagam tersebut melindungi hak semua warga negara—terlepas dari agama atau afiliasi suku mereka—termasuk suku Aws dan Khazraj, serta para imigran.
Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al-Haddad menyampaikan pernyataan ini dalam episode kesembilan program Ramadan Nilai-Nilai Kemanusiaan bersama Hukama, yang disiarkan di akun media sosial resmi MHM, Selasa (25/3/2025). Ia menegaskan bahwa setiap warga negara memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan mempertahankan tanah air mereka dari siapa pun yang ingin merusaknya. Sehingga, masyarakat dapat tetap aman dan terlindungi, di mana orang-orang saling mendukung dan melindungi.
Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al-Haddad mencatat bahwa pepatah “Cinta tanah air adalah sebagian dari iman” mencerminkan prinsip ini. Sebab, iman sejati dan Islam tidak lengkap tanpa rasa damai dan stabilitas. Jika rasa takut menguasai seseorang—baik itu terhadap kehidupan, kekayaan, atau keluarga—mereka tidak akan mampu memenuhi kewajiban agama dan sosial mereka dengan baik. Oleh karena itu, setiap individu harus hidup dalam kedamaian dan keamanan di tanah air mereka dan bertindak sebagai penjaga yang setia, sebagaimana mereka akan melindungi diri mereka sendiri.
Dr. Al-Haddad menambahkan bahwa rasa tanggung jawab ini harus berasal dari keyakinan psikologis yang mengakar kuat sebelum menjadi kewajiban hukum. Tanpa keyakinan batin seperti itu, seseorang mungkin tetap acuh tak acuh terhadap hilangnya atau hancurnya tanah air mereka. Ini telah menjadi kenyataan yang berulang dan dapat diamati sepanjang sejarah dunia Muslim, baik masa lalu maupun masa kini—tanah air hanya akan terancam ketika kesadaran nasional tidak ada.
Allah SWT memberikan contoh yang kuat dalam Al-Quran tentang konsekuensi dari stabilitas dan kemunduran nasional. Allah berfirman, “Dan Allah membuat perumpamaan (bagi kita) sebuah kota yang aman dan tenteram, rezekinya datang kepadanya dengan limpah dari setiap tempat, tetapi kota itu mengingkari nikmat Allah. Maka Allah merasakan kepadanya kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh apa yang telah mereka lakukan.” (Al-Quran, 16:112) Ini, kata Dr. Al-Haddad, adalah peringatan yang jelas dan ilahi bagi mereka yang membahayakan keselamatan dan keamanan negara mereka.
Selama Ramadan, MHM menyiarkan lima program Ramadan di seluruh platform media sosialnya: Al-Imam Al-Tayeb, Satu Bangsa, Nilai-Nilai Kemanusiaan bersama Hukama, Bulan Sabit Koeksistensi, dan Moral Kita. Prakarsa-prakarsa ini merupakan bagian dari strategi media Dewan yang bertujuan memanfaatkan semua platform untuk mempromosikan nilai-nilai dialog, perdamaian, toleransi, dan koeksistensi manusia.