“Seruan Ahlul Kiblat”, Dibahas dalam Seminar MHM di Pameran Buku Internasional Kairo
.
Paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) mengadakan seminar budaya ke-12 pada Pameran Buku Internasional Kairo ke-57, Minggu (1/2/2026). Seminag ini mengangkat judul: “Al Azhar dan Dialog Islam: Persyaratan untuk Menanggapi Seruan Ahlul Kiblat.”
Seminar tersebut menampilkan dua narasumber utama, yaitu: Profesor Dr. Nazir Mohamed Ayyad, Mufti Agung Mesir, dan Dr. Samir Boudinar, Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Hikma. Diskusi dimoderatori oleh Dr. Mohamed Mahmoud Shaaban, anggota fakultas di Universitas Al Azhar.
Pada awal seminar, Profesor Dr. Nazir Mohamed Ayyad menekankan bahwa mempersatukan umat Islam bukanlah kemewahan intelektual atau hal yang sekunder. Prof. Nazir mencatat bahwa dunia saat ini sedang mengalami transformasi yang cepat dan tantangan yang kompleks, yang menempatkan tanggung jawab yang lebih besar pada lembaga-lembaga yang berkaitan dengan dialog. Prof Nazir menjelaskan bahwa mencapai persatuan bergantung pada beberapa mekanisme kunci, termasuk keterlibatan objektif dengan teks-teks wahyu, menghadapi fatwa-fatwa yang menyimpang, mengoreksi kesalahpahaman, dan mempromosikan budaya saling pengertian dan dialog di antara berbagai aliran pemikiran dan tren intelektual.
Mufti Agung Mesir ini juga menyoroti bahwa para cendekiawan peradaban Islam menghadirkan model-model perintis penafsiran teks-teks keagamaan yang benar, berkontribusi pada penyembuhan perpecahan dan mempersatukan umat. Prof Nazir lalu mengutip Imam Abu al Hasan al Asy’ari, pendiri mazhab Asy’ari, yang, setelah wafatnya, menasihati salah satu muridnya:
“Bersaksilah bahwa aku tidak menyatakan seorang pun dari Ahlul Kiblat sebagai orang kafir, karena semuanya mengarah kepada satu Tuhan, dan semua perbedaan hanyalah perbedaan dalam ungkapan.”
Prof Nazir lebih lanjut mencatat bahwa “Seruan Ahlul Kiblat” mewakili inisiatif komprehensif berbasis konsensus yang melibatkan para cendekiawan, pemikir, dan mufti dari seluruh dunia Islam, yang bertujuan untuk menghadapi perselisihan sektarian dan tantangan bersama serta menyatukan kembali umat. Ia menekankan pentingnya lembaga-lembaga akademis mempelajari dokumen tersebut secara mendalam untuk memperkuat persatuan Islam dan mengatasi penyebab perpecahan.
Sementara itu, Dr. Samir Boudinar menjelaskan bahwa “Seruan Ahlul Kiblat” bukan sekadar teks atau pernyataan, tetapi visi mendalam yang berakar pada warisan Islam, khususnya tradisi teologis Asy'ariyah yang dianut mayoritas ulama Muslim, berdasarkan prinsip tidak menyatakan siapa pun dari Ahlul Kiblat sebagai kafir. Ia menekankan perlunya membangun kembali persatuan melalui revitalisasi warisan intelektual Asy'ariyah, bersamaan dengan mengintegrasikan ilmu agama dan humaniora untuk mencapai tujuan dokumen tersebut.
Boudinar menambahkan bahwa inisiatif ini bertujuan untuk membuka cakrawala dialog di antara masyarakat untuk menghilangkan kesalahpahaman dan menepis stereotip yang menyimpang, memperingatkan bahwa ketiadaan dialog dapat membuat umat Islam rentan terhadap mereka yang berupaya mengeksploitasi perpecahan di dalamnya. Ia juga menunjukkan bahwa sejarah mengajarkan bahwa umat Islam sering kali menjadi sasaran perpecahan dan fragmentasi, sementara momen-momen kekuatan dan kemenangannya terkait dengan persatuan, pengetahuan, dan kesadaran akan hukum-hukum ilahi. Persatuan, tegasnya, selalu dan akan tetap menjadi sumber kekuatan umat Islam.
Perlu dicatat bahwa “Seruan Ahlul Kiblat” adalah salah satu hasil utama dari edisi pertama Konferensi Dialog Antar-Islam, yang diselenggarakan oleh Kerajaan Bahrain pada Februari 2025 di bawah naungan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa, dan dihadiri oleh Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dengan partisipasi lebih dari 400 ulama dan pemimpin agama dari seluruh dunia Islam.
Majelis Hukama Muslimin berpartisipasi dengan paviliun khusus di Pameran Buku Internasional Kairo ke-57, yang berlangsung dari 21 Januari hingga 3 Februari 2026. Paviliun ini menampilkan berbagai publikasi MHM, di samping menyelenggarakan berbagai seminar, kegiatan, dan acara yang berfokus pada promosi nilai-nilai kebaikan, cinta, perdamaian, dan hidup berdampingan di antara semua orang.
Paviliun MHM terletak di sebelah paviliun Al Azhar di Aula Warisan No. 4 di Pusat Pameran dan Konvensi Internasional Mesir di Kairo Baru.