“Perjalanan Persaudaraan Kemanusiaan" Dibahas pada Pameran Buku Arab Istanbul
MHM gelar seminar pada Pameran Buku Arab Istanbul
Stan Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada Pameran Buku Arab Istanbul menyelenggarakan seminar bertajuk "Perjalanan Persaudaraan Manusia: Imam Besar dan Paus Fransiskus sebagai Model." Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al Hokama, Samir Boudinar, mempresentasikan tema seminar ini pada Booth No. 38, Hall 9, tempat pameran MHM di Istanbul, Sabtu (16/12/2023).
Boudinar menekankan kebutuhan mendesak bagi dunia untuk membangun dan meningkatkan nilai-nilai persaudaraan manusia, khususnya di tengah perang dan konflik yang memerlukan penyebaran nilai-nilai perdamaian, saling hidup berdampingan, dan perjuangan melawan segala bentuk kekerasan, terorisme, kefanatikan, kebencian, dan diskriminasi.
Boudinar menegaskan, Imam Besar Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiskus memberikan model inspiratif dalam hubungan antara pemimpin dan simbol agama. Boudinar juga menyoroti hubungan persaudaraan dan persahabatan antara kedua tokoh agama penting ini, yang memuncak pada penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia di Abu Dhabi pada 2019. Dokumen ini mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mempromosikan dan memperkuat nilai-nilai dialog, toleransi, dan persaudaraan manusia.
Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al Hokama juga menjelaskan, buku “Paus dan Imam Besar: Jalan Berduri” memberikan penjelasan rinci tentang perjalanan Dokumen Persaudaraan Manusia, dokumen terpenting dalam sejarah manusia modern. Dia juga menyoroti jalan persaudaraan umat manusia yang dilakukan oleh Imam Besar dan Paus Fransiskus untuk membimbing umat manusia menuju masa depan yang lebih baik.
Dua tahun berturut-turut, MHM berpartisipasi dalam Pameran Buku Arab Istanbul. Hal ini sejalan dengan misi MHM untuk mempromosikan budaya dialog, toleransi, dan hidup berdampingan dengan umat manusia.
Pameran ini merupakan salah satu pertemuan penting bagi penerbit Arab dan pencipta konten sastra dan budaya di wilayah tersebut. Hal ini juga menjadi peristiwa penting bagi komunitas Arab di Eropa, mengingat Istanbul sebagai jembatan dialog antara Timur dan Barat