Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) memberikan perhatian khusus pada Qawaafil as-Salaam atau Peace Convoys. Yaitu, program untuk mempromosikan perdamaian, toleransi dan semangat hidup berdampingin, terutama di kalangan pemuda muslim, serta organisasi keagamaan dan perguruan tinggi di dunia.
Konvoi pertama dilakukan selama bulan Ramadhan 1436 H/2015 M, untuk empat belas negara. Para cendekiawan di bidang hukum Islam dan disiplin ilmu keislaman lainnya, berbicara dengan bahasa negara yang dikunjungi dalam beragam kegiatan ilmiah, misalnya: seminar keagamaan, pertemuan intelektual, dan kuliah ilmiah. Hal itu dilakukan di sejumlah lembaga keagamaan dan akademik. Tujuannya, meluruskan pemahaman dan meredakan ketegangan terkait isu-isu keagamaan yang banyak berkembang di masyarakat muslim dan dunia.
Konvoi perdamaian ini dilakukan MHM bekerja sama dengan Al-Azhar Al-Sharif.
Target
Konvoi Perdamaian dilakukan di sejumlah negara yang sedang mengalami konflik kebudayaan, baik terkait agama maupun etnis, dengan rincian:
a. Benua Eropa: Inggris, Jerman, Italia, Spanyol, dan Perancis.
b. Asia: China, Indonesia, Pakistan, dan Kazakhstan
c. Afrika: Nigeria, Chad, Afrika Selatan, dan Afrika Tengah
d. Amerika: Amerika Serikat
Misi
Misi dari Konvoi Perdamaian adalah mempromosikan budaya damai dan koeksistensi di antara umat Islam dan pemeluk agama lain. Selain itu, mendorong para pemuda Muslim untuk membuat integrasi sosial di komunitas mereka masing-masing. Misi lain yang tidak kalah penting adalah mengurangi ketegangan yang berpusat di sekitar komunitas Muslim di luar negeri.
Skema Program
Konvoi Perdamaian dilakukan dengan menyelenggarakan kegiatan ilmiah dan dakwah secara intensif. Kegiatan tersebut dilakukan antara lain dalam bentuk seminar intelektual dan ilmiah, lokakarya, dan kuliah di berbagai lembaga keagamaan dan lembaga akademik di negara-negara sasaran.
Tujuan
Ada sejumlah tujuan yang ingin dicapai melalui Program Konvoi Perdamaian, yaitu:
1. Mempromosikan budaya perdamaian, toleransi, dan koeksistensi antar pemeluk agama yang berbeda;
2. Memadamkan api ketegangan di sejumlah negara yang mengalami konflik budaya dengan mengatasnamakan agama.
3. Menyebarkan kesadaran di kalangan pemuda muslim dan memperjelas ajaran Islam yang sebenarnya kepada mereka. Pemuda Muslim termasuk kalangan paling rentan terhadap gerakan ekstremis.
4. Mendorong umat Islam untuk berintegrasi secara positif dan efisien dalam masyarakat di tempat mereka tinggal.
5. Menemukan dan memberikan solusi untuk ketegangan terkait persoalan keagamaaan di masyarakat sasaran.