Terima Presiden Montenegro, Ketua MHM: Islam Agama Rahmat, Klaim Islam Mendorong Kekerasan adalah Salah
.
Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, Senin (20/7/2026), menerima Presiden Montenegro Jakov Milatović, dan Ibu Negara Montenegro. Pertemuan kedua tokoh ini membahas upaya memperkuat kerja sama antarpihak.
Grand Syekh Al Azhar menyambut kehadiran Presiden Montenegro. Imam Akbar Ahmed Al Tayeb menekankan bahwa agama-agama diturunkan untuk membebaskan umat manusia dari keinginan rendah, ketidakadilan, dan agresi terhadap hak-hak orang lain, dan untuk membangun individu yang seimbang yang percaya pada hidup berdampingan dan menghormati martabat manusia. Ketua MHM ini juga menyoroti pengalaman Rumah Keluarga Mesir, yang diketuai bersama oleh Grand Syek Al-Azhar dan Paus Gereja Ortodoks Koptik secara bergantian setiap enam bulan dan berupaya memperkuat persaudaraan nasional. Lembaga tersebut, menurutnya, telah memainkan peran penting dalam mengatasi ketegangan sektarian dan menggagalkan upaya untuk menabur perpecahan di antara warga negara.
Grand Syekh Al Azhar menambahkan bahwa pesan ini kemudian diangkat ke tingkat global melalui penandatanganan Dokumen tentang Persaudaraan Manusia dengan mendiang Paus Fransiskus. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian menetapkan peringatan penandatanganannya, setiap tahun pada 4 Februari, sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional.
Imam Akbar Ahmed Al Tayeb lebih lanjut mencatat bahwa Al-Azhar dan Majelis Hukama Muslimin telah memperluas keterlibatan berbagai lembaga keagamaan dan budaya di Timur dan Barat, termasuk Gereja Inggris, Dewan Gereja Timur Tengah, dan Dewan Gereja Sedunia. Mereka juga telah menyelenggarakan banyak konferensi tentang hak asasi manusia dan menyerukan penggantian istilah "minoritas" dengan "kewarganegaraan penuh," yang mencerminkan hak dan tanggung jawab yang sama bagi semua anggota masyarakat.
Presiden Montenegro menegaskan apresiasi negaranya atas upaya Grand Syekh Al Azhar dalam mempromosikan nilai-nilai hidup berdampingan secara damai dan persaudaraan manusia. Jakov Milatović menyatakan: “Montenegro adalah negara multietnis dan multikultural, dan Islam merupakan bagian integral dari tatanan nasionalnya. Semua orang hidup bersama dalam damai.” Presiden Montenegro menambahkan, “Yang Mulia bukan hanya seorang pemimpin agama tetapi juga seorang tokoh intelektual yang dihormati oleh umat Muslim dan non-Muslim di seluruh dunia.”
Pada akhir pertemuan, Presiden Montenegro bertanya kepada Grand Syekh Al Azhar bagaimana menanggapi penyalahgunaan teks-teks keagamaan oleh kelompok-kelompok ekstremis dan kutipan ayat-ayat Al-Qur'an untuk membenarkan terorisme dan ekstremisme. Imam Akbar menekankan bahwa kelompok-kelompok tersebut sama sekali tidak mewakili Islam maupun Al-Qur'an dan bahwa, seandainya mereka memahami ajarannya dengan benar, mereka tidak akan pernah melakukan kejahatan tersebut.
“Mereka telah lebih merugikan Islam daripada musuh-musuhnya,” kata Grand Syekh Al Azhar.
“Penting untuk menyadari bahwa jumlah Muslim yang mereka bunuh melebihi jumlah non-Muslim. Sebagian besar korban mereka adalah Muslim. Mereka telah menjadi ujung tombak yang digunakan oleh kekuatan tersembunyi yang tahu bagaimana melancarkan perang melawan agama secara umum dan Islam secara khusus,” lanjutnya
Grand Syekh Al Azhar juga menjelaskan bahwa kelompok-kelompok ini mengeksploitasi agama untuk mencapai tujuan politik dan kepentingan pribadi yang dilarang oleh semua agama wahyu. Ketua Majelis Hukama Muslimin ini menambahkan: “Perang Salib berlangsung selama lebih dari dua ratus tahun, namun tidak ada yang dapat mengklaim bahwa Kekristenan atau Yesus Kristus, bertanggung jawab atasnya. Bahkan, istilah ‘Perang Salib’ diciptakan di Barat. Dalam warisan kita, kita menyebutnya sebagai ‘Perang Frankish’ karena kita tidak mengaitkan perang-perang itu dengan Kekristenan atau Yesus. Kita percaya pada Musa dan Yesus, semoga kedamaian menyertai mereka, sebagaimana kita percaya pada Nabi Muhammad, semoga kedamaian dan berkah menyertainya. Demikian pula, Islam dalam keadaan apa pun tidak dapat dimintai pertanggungjawaban atas tindakan orang-orang yang telah menyimpang dari ajaran tolerannya dan melakukan kejahatan yang secara eksplisit dilarang oleh Al-Qur'an.”
Grand Syekh Al Azhar lebih lanjut menekankan bahwa klaim yang sering diulang oleh sebagian orang bahwa agama adalah penyebab perang sama sekali tidak benar. Pernyataan bahwa perang pada dasarnya bersifat religius adalah sebuah kesalahpahaman, katanya, menjelaskan bahwa masalah sebenarnya terletak pada penyalahgunaan agama dan manipulasi agama untuk melayani agenda dan kepentingan politik, padahal semua agama menyerukan kesejahteraan umat manusia dan pelestarian martabat manusia.