Presiden Jokowi Optimis Asia Tenggara Bisa Jadi Katalisator Perdamaian Dunia
Presiden Joko Widodo membuka ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference 2023 (ASEAN IIDC 2023) di Jakarta
Presiden Indonesia Joko Widodo optimis akan kiprah masyarakat Asia Tenggara dalam merawat perdamaian dunia. Presiden bahkan yakin masyarakat Asia Tenggara mampu menjadi katalisator perdamaian dunia.
Pesan ini disampaikan Presiden Joko Widodo saat membuka ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference 2023 (ASEAN IIDC 2023) di Jakarta. Hadir mendampingi, Ketua Umum PBNU Gus Yahya, Menko PMK Muhadjir Effendy, Menlu Retno Marsudi, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, serta Pj Gubernur DKI Heru Budi Hartono.
ASEAN IIDC 2023 diselenggarakan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama. Forum yang diikuti para pemuka lintas agama dari 11 negara ini mengusung tema ASEAN Shared Civilizational Values: Building an Epicentrum of Harmony to Foster Peace, Security, and Prosperity. Forum dialog keagamaan ini merupakan bagian dari Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.
Menurut Presiden Jokowi, ASEAN mampu menjadi katalisator perdamaian dunia dan mampu menjadi caring and sharing community di tengah masyarakat dunia yang semakin tidak religius. "Bukan hanya jadi epicentrum of growth tapi juga jadi epicentrum of harmony yang menjaga stabilitas kawasan dan perdamaian dunia," kata Presiden Jokowi, Senin (7/8/2023).
Presiden Jokowi mengingatkan bahwa kondisi dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Hal itu antara lain karena peningkatan konflik global. Data Global Peace Index 2023 menunjukkan, negara yang terlibat konflik meningkat menjadi 91 negara dan korbannya mencapai 238 ribu jiwa.
"Tahun 2008 ada 58 negara yang terlibat dalam konflik dan saat ini menjadi 91 negara. Angka kematian akibat konflik global pun meningkat jadi 238 ribu jiwa dan dampak ekonomi naik 17 persen menjadi 17,5 triliun US Dolar, setara dengan 13 persen dari GDP global. Sangat besar sekali," kata Jokowi.
Di sisi lain, lanjut Jokowi, masyarakat dunia semakin tidak religius. Survei dari IPSOS Global Religion menunjukkan 29% masyarakat dunia menyatakan mereka agnostik dan atheis.
"Dan menurut data Pew Research Center atas Nama Agama dan Kepercayaan, jumlah kekerasan fisik semakin meningkat. Saya yakin bapak ibu yang hadir di sini memiliki komitmen yang sama dengan saya bahwa ASEAN harus menjadi teladan dan toleransi persatuan. ASEAN harus jadi jangkar perdamaian dunia," ungkapnya.
Ia yakin masyarakat ASEAN justru memiliki semangat keagamaan yang semakin meningkat. “Indonesia misalnya, adalah negara yang masyarakatnya paling percaya Tuhan dan angkanya tertinggi di dunia," kata Jokowi.
"Dan ini menurut Pew Research Center, 96 persen responden di Indonesia meyakini bahwa moral yang baik ditentukan kepercayaan kepada Tuhan," imbuhnya.
Dalam kondisi seperti itu, lanjut Presiden, negara-negara ASEAN telah berhasil mempertahankan tradisi toleransi yang kuat di tengah keberagaman budaya dan agama. Di Indonesia misalnya, masyarakat terus menjaga kerukunan dan mengelola keragaman etnisitas, suku, budaya, agama, dan kepercayaan